Muqaddimah Kitab Al-Burhan Min Qashashil Quran
Muqaddimah Kitab Al-Burhan min Qasasil Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 9 Rajab 1447 H / 29 Desember 2025 M.
Kajian Tentang Muqaddimah Kitab Al-Burhan min Qasasil Qur’an
Pilihan Allah atas Tempat dan Waktu
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dan memilih sebagian di antaranya untuk memiliki keutamaan lebih dibandingkan yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ…
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Al-Qashash [28]: 68)
Dalam hal tempat, Allah melebihkan Masjidil Haram di Makkah. Shalat di Masjidil Haram memiliki perbandingan pahala lebih baik dari 100.000 kali lipat dibandingkan shalat di tempat lain. Keistimewaan ini menuntut setiap orang yang hendak melaksanakan umrah untuk mempersiapkan dan mensucikan hatinya agar perjalanannya maksimal.
Begitu pula dalam hal waktu, Allah melebihkan sebagian bulan di atas bulan lainnya. Dalam satu tahun terdapat dua belas bulan sebagaimana ketetapan Allah sejak penciptaan langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ…
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah [9]: 36)
Empat bulan haram tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terdiri dari tiga bulan yang berurutan dan satu bulan yang terpisah:
السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Setahun terdiri atas dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram (suci). Tiga bulan di antaranya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan Muharam. Kemudian satu bulan lainnya adalah Rajab Mudar, yang terletak di antara bulan Jumada (Al-Akhirah) dan Syakban.” (HR. Muslim)
Kabilah Mudar dikenal sangat mengagungkan bulan Rajab, sehingga disebut sebagai Rajab Mudar. Saat ini, waktu telah memasuki bulan Rajab yang agung, yang menjadi pertanda bahwa bulan Ramadhan akan segera tiba. Selain bulan haram, dikenal pula bulan-bulan haji yang terdiri dari Syawal, Dzulka’dah, dan Dzulhijah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan meninggikan derajat sebagian di atas yang lainnya, yaitu para nabi dan rasul. Allah ‘Azza wa Jalla mengutus mereka untuk berdakwah agar manusia beribadah hanya kepada Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya. Para rasul bertugas menjelaskan jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hanya para rasul yang memahami hakikat kebahagiaan tersebut serta tata cara ibadah yang benar menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Manusia pada dasarnya tidak mengetahui tata cara ibadah yang benar tanpa bimbingan wahyu. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai rasul terakhir untuk menjelaskan isi Al-Qur’an. Beliau mendakwahi manusia mengenai cara mentauhidkan Allah dengan benar serta menjelaskan perincian ibadah.
Tata cara shalat, mulai dari takbiratulihram hingga salam, tidak dapat diketahui tanpa mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui hadits-hadits beliau. Seseorang tidak akan mampu melaksanakan shalat jika hanya merujuk pada Al-Qur’an secara tekstual tanpa hadits.
Di dalam Al-Qur’an memang terdapat perintah untuk menegakkan shalat, tetapi perincian mengenai jumlah rakaat tidak disebutkan di dalamnya. Dalil yang menetapkan shalat Magrib tiga rakaat, Subuh dua rakaat, serta Dzuhur, Ashar, dan Isya empat rakaat, seluruhnya bersumber dari hadits. Demikian pula mengenai bacaan rukuk, sujud, tasyahud, hingga doa perlindungan dari empat hal pada tasyahud akhir; semua itu tidak ditemukan di dalam Al-Qur’an melainkan dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini juga berlaku pada syariat zakat dan haji. Kebahagiaan dunia dan akhirat hanya dapat diraih dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus rasul pada setiap umat dengan tugas utama yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl [16]: 36)
Manusia, baik pada masa dahulu maupun sekarang, senantiasa membutuhkan keberadaan rasul serta manhajnya. Kebutuhan ini bersifat mutlak dan manusia tidak dapat terlepas dari bimbingan rasul meski hanya sekejap mata. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu Qayyim Rahimahumullah, bahwa kebutuhan manusia terhadap risalah para nabi jauh lebih besar daripada kebutuhan lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah Rahimahumullah, menjelaskan bahwa manusia sangat membutuhkan para rasul, manhaj, serta pengajaran mereka. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, risalah kenabian adalah kebutuhan mendasar bagi setiap hamba. Kebutuhan hamba kepada risalah ini berada di atas segala kebutuhan lainnya di dunia.
Beliau menyatakan bahwa risalah kenabian merupakan ruh, cahaya, dan kehidupan bagi alam semesta. Dunia tidak memiliki kebaikan jika kehilangan ruh, cahaya, dan kehidupan tersebut. Tanpa pancaran risalah, dunia adalah tempat yang gelap dan terlaknat.
Kondisi tersebut juga berlaku bagi hati seorang hamba. Hati akan menjadi gelap dan terlaknat jika tidak disinari oleh cahaya risalah kenabian. Tanpa kehidupan dan ruh yang berasal dari risalah, hati akan terperangkap dalam kegelapan dan pemiliknya tergolong seperti orang yang mati secara spiritual. Oleh karena itu, hati tidak boleh kosong dari nilai-nilai risalah agar terhindar dari kematian atau penyakit hati.
Mengenai perumpamaan orang yang mendapatkan cahaya hidayah dan orang yang berada dalam kegelapan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An’am [6]: 122)
Ayat ini merupakan hal penting untuk ditadaburi karena menggambarkan perbedaan nyata antara orang yang memiliki cahaya iman dalam hidupnya dengan orang yang terjebak dalam kegelapan tanpa jalan keluar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan yang sangat agung mengenai keadaan hamba-Nya. Sifat seorang mukmin pada mulanya diibaratkan seperti orang yang mati di tengah kegelapan kebodohan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkannya dengan ruh risalah dan cahaya keimanan. Dengan cahaya tersebut, seorang mukmin dapat berjalan di tengah-tengah manusia di atas landasan hidayah. Orang yang berpegang teguh pada risalah akan senantiasa terbimbing hidupnya dan tidak akan terjebak dalam kegelapan.
Sebaliknya, orang kafir atau orang yang hatinya mati berada dalam kegelapan yang berlapis-lapis. Penggunaan kata kegelapan dalam bentuk jamak (dzulumat) menunjukkan betapa pekat dan banyaknya tingkat kegelapan yang mereka hadapi. Hal ini selaras dengan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengenai pentingnya risalah kenabian.
Al-Qur’an sebagai Ruh bagi Kehidupan Hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai ruh. Sebagaimana tubuh fisik yang kehilangan ruh akan menjadi jasad mati yang tidak mampu bergerak, melihat, atau mendengar, demikian pula dengan hati manusia. Hati yang kehilangan ruh risalah akan menjadi hati yang mati.
Maksud dari kata “ruh” dalam ayat tersebut adalah Al-Qur’an. Keberadaan Al-Qur’an di dalam hati menjadi penentu hidup atau matinya hati seseorang. Jika Al-Qur’an tidak ada di dalam hati, maka hati tersebut akan kehilangan cahayanya.
Sangat penting untuk menjaga hati agar tidak terisi oleh hal-hal selain Al-Qur’an yang dapat mematikan fungsinya. Seseorang hendaknya tidak membiarkan Al-Qur’an di dalam hatinya digantikan oleh nasyid, nyanyian, atau musik. Memperbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan cara agar hati tetap hidup dan senantiasa mencintai Al-Qur’an.
Kecenderungan hati adalah jika ia telah terisi oleh Al-Qur’an, ia akan sulit menerima pengaruh lain yang bertentangan. Sebaliknya, jika hati sudah terisi oleh musik, maka Al-Qur’an akan sulit masuk ke dalamnya. Oleh karena itu, mengisi hati dengan Al-Qur’an adalah kebutuhan mutlak agar seorang hamba senantiasa berada dalam naungan cahaya hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Muqaddimah Kitab Al-Burhan min Qasasil Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55940-muqaddimah-kitab-al-burhan-min-qashashil-quran/